Butuh, Tapi...
Belakangan ini aku sengaja mengurangi intensitasku bermain media sosial; whatsapp khususnya. Jika saja zaman teknologi masih seperti dulu, perihal isi pulsa, lalu dapat gratisan sms atau telfon ke sesama, maka aku akan lebih memilih untuk uninstall whatsapp saja. Katanya, untuk berbagi kabar, berbagi moment, berbagi informasi, namun bagaimana saat isi pikiran kita tak sejalan dengan itu semua dan justru sedang berusaha melawan arah? Hffft, whatsapp memang aplikasi paling asdfghjkl di zaman sekarang. Bagiku, ya. Butuh tapi benci, benci tapi butuh. "Menurutmu, bagaimana solusinya ya, bung?", tanyaku. "Yaa buka whatsapp seperlunya saja; tidak usah klik fitur status", katanya. "Cukup buka room chat, lihat ada pesan penting atau tidak, dan apakah kamu ada keperluan dengan orang lain melalui chat? Setelah itu, sudah keluar dari aplikasinya. Mudah bukan?". Caramu menjelaskan sungguh menggemaskan, bung. Terima kasih atas tips sederhananya, hehe. Nb. Catatan ...