Rihlah 2021
Sekecil apapun sesuatu, jika ia mampu memberi pelajaran, maka patut kita jadikan sebagai guru. Pun dengan 2021 yang telah berlalu.
Istilah ini sering dilontarkan bahkan ada lagunya, "masa lalu biarlah masa lalu. Memang betul, yang berlalu sudah pasti berlalu; tidak akan terjadi lagi. Kalau terjadi lagi namanya sebatas halu. Karena apa-apa yang telah lalu itu hanya patut dikenang, maka tugas kita satu; mengambil 'ibrah dari apa-apa yang telah terjadi di masa lalu, sehingga yang kita lakukan tidak hanya sekadar mengenang. Namun, mengenang untuk mengambil pelajaran yang nantinya dapat menjadikan kita seorang pemenang; pemenang dari kegagalan yang kita kenang misalnya.
2021 berjalan begitu cepat, pun begitu lambat. Rasanya ada
banyak hal yang terdelete dari memoriku. Kurun waktu terjauh yang ku ingat
adalah Mei (bulan kelahiranku).
Mei; di tahun kemarin, Mei menjadi begitu mengerikan. Diri
yang belum memiliki apa-apa, tiba-tiba sudah mencapai anak tangga ke-21 saja di
tanggal 25. Belajar mencoba menjadi pribadi yang lebih hangat, lebih terbuka,
lebih bersahaja, lebih segala-galanya.
Juli; hari-hariku dihiasi dengan bertemu orang-orang baru di
tempat magang PPLku. Bertemu dengan beberapa guru yang rela membagikan ilmunya
pada kami yang masih kekurangan ilmu. Bertemu dengan anak-anak yang asyik,
menikmati proses belajar mereka meski teman-temannya terbilang sedikit. Pun,
yang tidak disangka-sangka yaitu bertemu dengan 'dia'. Sosok yang tidak bisa
kudeskripsikan dengan kata.
Juli di hari-hari terakhir menjadi hari yang begitu
membimbangkan.
Ohya, ada satu kalimat yang
akan aku highlight sepanjang masa, juga aku jadikan itu sebagai doa dan
penggugah jiwa. "Semangat, semoga sukses".
Agustus;
bulan pencetak rekor dengan kisah tersulit dan terpanjang.
Agustus
memberi jawaban atas kebimbangan Juliku. Sekaligus menjatuhkanku pada lubang
cukup dalam yang membuatku sulit untuk bangkit. Kehilangan sosok kedua setelah
di akhir Juli aku kehilangan sosok yang pertama.
Bulan dengan
penyesalan dan kehilangan yang begitu mendalam; bagiku dan bagi banyak orang.
Tepat pada awal pergantian Juli dan Agustus, Allah memanggil sang penyejuk
jiwa, murobbi ruh kami semua. Rasanya seperti mimpi. Hari-hari yang biasanya
aku selalu membersamai beberapa aktivitas beliau, namun sepekan sebelum beliau
tidak ada aku sedang pulang. Ada banyak hal yang belum sempat tersampaikan. Ada
banyak hal yang belum sempat kuminta agar beliau mau mendoakan, dan beberapa
belum sempat lain yang entah ada berapa jumlahnya.
Agustus
menuntutku agar menerima kenyataan, bangkit dari keterpurukan dan memulai
semuanya demi masa depan yang tak pantas untuk diabaikan. Dan kalimat beliau di
bulan Juli, tidak akan pernah aku lupakan. Begitu berat rasanya menerima apa
yang terjadi di bulan ini, tetapi aku yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa :
tidak sedetik pun beliau pergi, beliau selalu dekat; dalam lantunan doa kita.
Lahul fatihah.
Jum'at ke-2
di bulan Agustus aku bertemu dengan orang-orang baru. Benar-benar baru. Mereka
adalah teman satu KKN-ku. Satu almamater namun berbeda jurusan, dan parahnya
lagi sebelumnya aku tidak mengenal mereka sama sekali. Melakukan proses
adaptasi yang entah kenapa kali ini terbilang cukup sulit.
September;
hanya berkisar tentang KKN dan beberapa cerita tak terduga di dalamnya.
Sungguh, tak akan aku lupa.
Oktober;
masih tentang KKN. Namun, bulan ini cukup membuat darah tinggi. Menjelang akhir
bulan, ada pemadatan kegiatan KKN (begitu padat). Bersamaan dengan itu pula,
ghiroh anggota kelompok KKN mulai turun, mulai bosan dengan kegiatan yang sudah
berlangsung hampir 3 bulan. Kebersamaan dan kekompakan mulai kabur. Padahal,
ada banyak kegiatan yang mengharuskan dua hal tersebut.
Mengalah dari
yang lain untuk mau berkutat dengan data dari warga demi memenuhi program
atasan. Pun rela bolak balik Kejaksan-Perjuangan demi mengejar target
menyelesaikan revisi proposal dan bisa daftar seminar proposal di akhir bulan.
Di akhir
bulan ini pula, aku dan teman-teman lain berpisah. Bercengkrama mesra untuk
terakhir kalinya sebagai mahasiswa KKN. Malam pelepasan yang begitu emosional;
jadwal acara yang tidak sesuai dengan rencana hingga perpisahan yang penuh air
mata dari anak-anak Nur Hidayah tercinta. Terima kasih kami ucapkan pada ketua
DKM, jama'ah masjid baik ibu-ibu, bapak-bapak atau anak-anak yang telah memberi
pelajaran berharga untuk kami.
November;
bulan ini hanya disibukkan dengan proposal. Mulai dari persiapan untuk seminar,
seminar proposal, hingga revisian. Hamdalah karena tidak begitu banyak drama di
bulan ini. Ah iya, terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk datang dan menjadi bagian dari selebrasi seminar proposalku. Love you all
Desember;
kusebut sebagai bulan penuh syukur dan insecure. Sangat bersyukur karena di
awal hingga mendekati akhir dari bulan ini dikaruniai semangat yang begitu
menggebu, mendaftar volunteering sana-sini, mengejar target skripsi. Mencapai
titik merasa sedang sangat di sayang oleh Allah dengan adanya beberapa kejutan
baik dari-Nya (seperti yang kuceritakan dalam sajak "la hawla wala quwwata
illa billah").
Namun, di
bulan yang sama pula aku merasa insecure, ragu dan ingin menyerah. Kejutan baik
ketika aku lolos seleksi berkas di dua event volunteering, namun kejutan kurang
baik ketika aku tidak lolos di seleksi berikutnya, yaitu wawancara. Mulai
merasa bingung dan ragu dengan planning yang sebelumnya telah dibuat dengan
cukup matang, dan tiba-tiba merasa begitu ragu dan tidak mampu karena suatu
hal. Bahkan di penghujung tahun 2021 kemarin, keraguan itu masih membersamai.
Begitulah
sedikit banyaknya kisah 2021 yang sempat terekam dalam memori. Banyak harap,
asa dan cita di tahun 2022 ini.
Semoga Sang
Maha Cinta tak pernah bosan melimpahkan kasih dan cinta-Nya pada kita, agar
tidak banyak kecewa dan luka yang tertambat dalam hati hamba-Nya.
Agar
hamba-hamba-Nya senantiasa meyakini adanya kekuatan dari 99 asma-Nya.
Ya tawwab tub
'alaina, warhamna wandzur ilaina.
Selamat
berproses menjadi manusia lebih kuat ya, semuanya :)
Komentar
Posting Komentar